ANIES IMBAU WASPADA DBD SEBAGAI GERAKAN BERSAMA

Indikatornews.com

Gubernur Provinsi DKI Jakarta Anies Baswedan meninjau langsung sejumlah warga penderita penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang dirawat inap di RSUD Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Minggu (3/2). Tinjauan ini turut dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Widyastuti, Ketua TPP PKK Provinsi DKI Jakarta Fery Farhati Ganis, dan Direktur Utama RSUD Pasar Minggu Yudi Amiarno.

Dalam kesempatan ini, Gubernur Anies berpesan agar seluruh warga di wilayah DKI Jakarta ikut mewaspadai dan terlibat aktif dalam mengantisipasi penyakit DBD yang sedang mewabah di Jakarta. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta pun terus melakukan berbagai upaya guna mengantisipasi munculnya Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD di seluruh wilayah Ibu Kota, baik melalui tindakan promotif, preventif, kuratif dan juga rehabilitatif. Gubernur Anies mengimbau kewaspadaan ini menjadi sebuah gerakan bersama, baik warga, pemerintah dan para pemangku kepentingan untuk mengantisipasi DBD.

“Kita mengetahui demam berdarah sekarang sedang mewabah di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di Jakarta. Sampai hari ini jumlahnya 876 kasus, di RSUD Pasar Minggu ini salah satu yang terbanyak, ada 49 pasien sedang dirawat (inap). Semua di RSUD kita perawatannya gratis untuk kasus demam berdarah, dan RSUD kita fasilitasnya bagus. Datang ke RSUD manapun kondisinya baik. Jadi, datang saja ke salah satu RS kita. Mari kita sama-sama periksa lingkungan di sekitar kita. Semua ini harus dilakukan sebagai sebuah gerakan bersama,” ungkap Gubernur Anies.

Lebih lanjut, Gubernur Anies juga mengimbau agar warga bersama Pemprov DKI Jakarta dan para pemangku kepentingan ikut berpartisipasi aktif dalam melakukan berbagai kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) agar lingkungan bebas dari jentik nyamuk, salah satunya menguras tampungan air. Sedangkan salah satu upaya yang telah dilakukan Pemprov DKI Jakarta adalah mendorong para Jumantik untuk terus ke lapangan melakukan kegiatan PSN setiap hari Jumat.

“Pastikan tidak ada air menggenang, dan tidak ada jentik-jentik nyamuk yang tumbuh (berkembang biak). Izinkan petugas Jumantik untuk menjalankan tugas memeriksa semua wilayah, termasuk di dalam rumah kita (dan lingkungan). Jangan sampai rumah kita ditutup dari pemeriksaan, nanti efeknya kasus-kasus seperti ini. Saya percaya warga Jakarta peduli lingkungan dan melindungi sesama. Petugas kita di seluruh kelurahan, kecamatan, RT, RW turun ke lapangan untuk mendorong agar warga (peduli) dan memeriksa lingkungannya,” tegasnya.

Gubernur Anies turut mengingatkan kepada seluruh warga yang merasakan gejala DBD agar tidak menganggap remeh kondisi kesehatannya. Sebab, Pemprov DKI Jakarta senantiasa cepat dan tanggap memberikan pelayanan maupun perawatan kesehatan gratis dan berkualitas baik kepada warga yang menderita DBD. “Langsung datangi Puskesmas. Periksakan diri dan jangan ditunda. Barusan saya ke IGD kita, ada salah satu contoh anak-anak yang mengalami gejala DBD, tidak langsung ditangani sampai terjadi berpotensi berkepanjangan. Ini hanya bisa dilakukan kalau orangtua, saudara, tetangga (cepat tanggap akan gejala) seperti DBD untuk diperiksa,” paparnya.

Adapun langkah-langkah yang perlu dilakukan sebagai gerakan bersama antara warga Jakarta, Pemprov DKI Jakarta dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan dini serta tindak lanjut guna mengantisipasi KLB DBD di Jakarta sebagai berikut:

1. Menyebarluaskan informasi ke masyarakat menggunakan media Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) atau media sosial yang ada, tentang waspada DBD dan pengendaliannya, yaitu dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

2. Peningkatan sistem kewaspadaan dini Penyakit DBD, melalui penguatan jejaring pelaporan kasus berbasis Rumah Sakit. Saat ini, Pemprov Jakarta DKI bekerja sama dengan BMKG dalam pengembangan model prediksi angka DBD berbasis iklim yang dapat diakses melalui http://bmkg.dbd.go.id/. Pemodelan ini merupakan bentuk sistem kewaspadaan dini yang dapat diakses seluruh lapisan masyarakat dalam rangka antisipasi.

3. Melakukan upaya-upaya pengendalian DBD dengan kegiatan sebagai berikut:
* Melakukan peningkatan PSN 3 M (Menguras, Menutup, Mendaur ulang) tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD plus kegiatan lainnya dalam mengurangi gigitan nyamuk.
* Pemeriksaan jentik oleh Juru Pemantau Jentik (Jumantik) minimal seminggu sekali, biasanya dilaksanakan setiap hari Jumat.
* Peningkatan Peran Jumantik Cilik/Jumantik Sekolah dalam kegiatan PSN baik di sekolah maupun tempat tinggalnya.
* Pemutusan mata rantai penularan dengan fogging, fokus pada kasus DBD dengan hasil Penyelidikan Epidemiologi (PE) positif.
* Peningkatan kerja sama lintas sektoral, khususnya pengelola gedung pada 7 (tujuh) tatanan (pemukiman, perkantoran, tempat-tempat umum, tempat pengelolaan makanan, institusi pendidikan, fasilitas kesehatan, dan fasilitas olah raga) dalam pelaksanaan PSN.

4. Menginstruksikan semua fasilitas pelayanan kesehatan untuk melakukan deteksi dini dan tata laksana kasus DBD sesuai standar.

5. Mengimbau masyarakat untuk berperan aktif dalam Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J) dan melaksanakan PSN 3 M Plus di tempat tinggal masing-masing minimal seminggu sekali, sebagai berikut:
* Menguras dan menyikat tempat-tempat penampungan air, seperti bak mandi/wc, tempayan, penampungan air minum, penampungan air buangan AC, ember, drum dan lain-lain.
* Menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air, seperti gentong air, tempayan, dan lain-lain.
* Memanfaatkan atau mendaur ulang barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan.
* Menutup lubang-lubang pada pohon, bambu, pagar rumah dengan tanah atau lainnya.
* Mengganti air di vas bunga, tempat minum burung, dan sejenisnya.
* Menaburkan larvasida atau memelihara ikan pemakan jentik pada tempat yang sulit dikuras.
* Menanam tanaman yang tidak disuka nyamuk.
* Mengupayakan ventilasi dan pencahayaan yang cukup dalam ruangan.
* Menghindari kebiasaan menggantung pakaian.
* Memakai repellent yang dapat mencegah gigitan nyamuk.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »