Jangan kasihani Zulkarnain Lubis

Tentu saja itu atas permintaannya sendiri.Zulkarnain Lubis yang akrab dipanggil Zul kini telah menghadap Yang Maha Memiliki.

“Jangan kasihani aku. Ini jalan hidup yang aku pilih,aku jalani dan harus aku pertanggung jawabkan Bukan aku sesali.”

Semasa masih jadi pemain nasional sampai di usia 59 perjalanan hidup Zulkarnain Lubis memang sepertinya bukan perjalanan yang mulus. Merah – hitam berliku kadang menanjak dan tak jarang pula terpuruk dan terempas.

Menemukan jodoh, berpisah, dapat jodoh lagi

Menjadi bintang tim nasional sampai melewati masa kejayaan,terpuruk lagi.Menyambung hidup dengan berjualam gorengan bersama sang istri
Kadang mendapat tambahan dari Tarkam alias Tarikan Kampung dan bermain bersama sesama “pemain uzur.”

Semua dilakoninya dengan tetap tersenyum kadang tawa renyah walau tak tahulah kita apa yang terjadi di balik senyum-tawa itu.

Di masa jayanya Zul sering disebut sebagai Maradonanya Indonesia

Kempuan olah bola Zul tidak ada yang menyamai.Zul sendiri mengatakan predikat”kemaradonaannya” mungkin karena rubuhnya yang kecil dengan rambut ikal terjurai.

Badan Zul tidak gempal seperti Diego Armando Maradona. Mungkin lebih seperti Osvaldo Ardiles. Kecil tapi tak pernah takut beradu.Ia juga cerdik melakukan gerak tipu mengecoh lawan.

Pelatih Diklat Salatiga sekitar era 70-80 an,Wiel Coerver memanggil Zul dengan panggilan Keegan. Kecil, cerdik dan sering menjadi penentu. Zul memenuhi kriteria seperti kapten FC Hamburg itu. Sedikit dari pemain Inggris yang menjadi legenda Bundesliga. “Hij is erg geweldig,” kata Coerver tentang Zul.

Pemain yang hebat Tanpa cacat? Tentu saja tak mungkin. Kadang kita geram di saat mendapat peluang, tanpa ada benturan Zul tunggang langgang sendiri. ” Apa macam kau Zul. Kaki bisa tersangkut, “kata saya suatu ketika. Zul marah? Tidak. Ia tersenyum sambil menutup mulut saya dengan tangannya. “Tutuplah dulu muncung ( bacot ) abang tu,” katanya. Saya berontak, terlepas dan maki dengan makian kasar khas Medan. Dia malah tertawa. Dasar Zul.

Zul sesekali minum minuman beralkohol

Tidak banyak dan sekadar Gin Tonic. “Kubayari abang ya?”

Gak mau, kataku.

Aah gak temanlah kita.

Kalau sudah begitu, susah bagi saya untuk menolak. Kejadian itu di Solo tahun 80 an.

Saya tanyakan mengapa ia seperti memaksa

Agar enak ditemani pulang ke hotel

Padahal saya dan Zul tidak saling janji ketemuan

Saya hanya iseng mau mendengarkan musik

Entahlah di dengan temannya setim,striker terkenal. Pulangnya,salah satu pelatih yang sangat ditakuti, Salmon Nasution ( kini sudah almarhum) mencegat. Zul dan rekannya tertunduk Tampak takut. “Masuk!!!” bentak Salmon.

Untung saya dan Salmon punya hubungan historis dan emosional. Kami pernah sama-sama bermain untuk PS Maluku di divisi utama Persija. Dengan enteng saya mengatakan saya tidak sengaja bertemu keduanya. Mamong, panggilan Salmon mengerti tapi dia bilang tidak enak dilihat orang. Ya, saya merasa bersalah Sorry for it,coach.

Untuk menetralkan suasana, dua botol kecil bir hitam cukuplah.

“Kegilaan” Zulkarnain Lubis memang sudah lama dan ia tetaplah pemain yang senang bermain. Digantipun ia sering tetap bisa tersenyum, termasuk di saat ia maki dirinya sendiri

Zul selalu terbuka kepada saya termasuk masalah pribadinya yang rasanya tidak elok untuk saya ungkap. Setiap bertemu Zul selalu menyapa dengan ramah Tak jarang disertai peluk-cium. Ia memang sosok yang selalu tampak gembira. Dalam keadaan prihatin sekalipun

Tak urung air mata menetes deras ketika saya memaksanyaenera rezeki yang bisa saya bagi. Gak usah bang, katanya.”Kuribak kau nanti,” kata saya. Saat itulah airmatanya jatuh, Air mata dari pemain yang selalu tampak gembira.

Kini Zul telah mendahului kita. Siapa tahu Zul sedang bergembira di lapangan di alam sana bersama pemain lain yang lebih dulu di sana. Tetaplah bersenang-senang Zul sehingga kami tidak perlu mengasihanimu. ( sakti s.umbaran)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »