KAPAN ANAK PERLU KACAMATA ?

Indikatornews.com

Mata sebagai salah satu indera penting manusia perlu dijaga dengan baik. Aktifitas sehari-hari dapat terganggu akibat masalah yang terjadi pada penglihatan. Begitu pula pada anak,  beberapa kelainan refraksi dapat  mempengaruhi prestasi belajar mereka. Kelainan Refraksi adalah kelainan sistem optik, di mana mata tidak dapat memfokuskan cahaya tepat di retina, akibatnya anak tidak dapat melihat dengan baik. Menurut Dr. Viktor Rasoebala SpM, dari Klinik Mata Nusantara, Jakarta,  ada beberapa kelainan refraksi yang umum terjadi pada anak dan bisa diatasi dengan kacamata, antara lain :

  1. Myopia (mata minus), terjadi karena bola mata terlalu panjang, sehingga cahaya difokuskan di depan retina. Mata minus adalah kelainan refraksi yang paling sering ditemukan dan umumnya disebabkan faktor keturunan. Faktor pendukung lainnya adalah faktor kebiasaan buruk yang dilakukan terus menerus seperti kebiasaan melihat sesuatu dalam jarak dekat dalam waktu lama : membaca, nonton televisi, komputer, main game, dan Kelainan ini dapat diatasi dengan kacamata minus agar mata anak kembali melihat dengan baik.
  1. Hypermetropia (mata plus) ,terjadi karena bola mata cenderung lebih pendek sehingga cahaya difokuskan di belakang retina. Umumnya saat lahir mata anak cenderung hipermetropia yang secara natural akan berkurang dan menjadi normal saat usia 6 tahun. Pada beberapa anak hipermetropia dapat tersisa pada satu atau kedua mata. Bila cukup besar ukurannya, anak akan kesulitan melihat dalam jarak dekat maupun jauh. Hipermetropia dikoreksi dengan kacamata plus.
  2. Astigmatism (mata silinder), disebabkan perbedaan kelengkungan kornea. Kornea mata tidak bulat tapi berbentuk oval seperti bola rugby, sehingga penglihatan buram atau mengalami distorsi. Kelainan ini dikoreksi dengan kacamata silinder.
  3. Anisometropia, terjadi karena ukuran kacamata (minus, plus, silinder) pada mata kanan dan kiri berbeda cukup besar. Mata dengan ukuran kacamata lebih tinggi, dalam perkembangannya menjadi lebih lemah, dikenal sebagai mata malas (lazy eye/amblyopia).

 

Orang tua perlu  mencermati  kegiatan anak sehari-hari. Beberapa hal yang dapat menjadi tanda awal kemungkinan anak perlu berkacamata:

  • laporan dari guru kalau anak kerap mendekat ke arah papan tulis saat di sekolah
  • anak sering mendekatkan kepalanya ke buku bacaannya atau sering mendekat ke arah televisi
  • anak sering memicingkan mata untuk melihat lebih fokus
  • sering merasa pusing atau pegal sekitar mata sehabis menggambar atau membaca
  • mata anak tampak juling

Untuk memastikan apakah anak perlu berkacamata atau tidak, sebaiknya mata anak diperiksakan ke dokter spesialis mata. Indikasi awal sebagaimana disebutkan di atas perlu diperhatikan karena tidak semua anak menyadari bahwa penglihatannya terganggu. Berbeda dengan orang dewasa, anak perlu memakai kacamata sepanjang hari  karena sistem penglihatan anak masih dalam taraf perkembangan. Perlu dimengerti oleh orang tua, bahwa penggunaan kacamata berperan penting untuk perkembangan normal mata anaknya. Kacamata tidak memperburuk kelainan refraksi anak (tidak menyebabkan kenaikan minus/plus/silinder).

Memilih kacamata paling sesuai untuk anak dan membuat anak disiplin memakai kacamatanya terkadang tidaklah mudah. Ajaklah anak terlibat langsung dalam memilih kacamatanya yang sesuai dengan selera mereka. Biasanya kacamata anak yang ringan dan lentur dengan lensa plastik cenderung lebih aman dan nyaman. Hal paling penting dalam membeli kacamata anak adalah sesuai dengan resep kacamata dari dokter mata. Jadi, Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter mata mengenai kesehatan mata anak anda. (KD)


TAG


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »