Pameran Fotografi DMZ Karya Fotographer Choi Byung Kwan

Jakarta, Indikatornews.com

Fotografer dan penyair yang sudah memperoleh penghargaan baik nasional maupun internasional Choi Byung Kwan yang telah menyelenggarakan pameran foto sebanyak 43 kali atas undangan dari berbagai negara, termasuk di markas besar PBB di New York, Amerika Serikat. Kali ini Choi bekerjasama dengan Korea Cultural Center Indonesia (KCCI) menyelenggarakan pameran di Galeri Musium Nasional Indonesia, Jl.Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat dari tgl. 25 Juni hingga 20 Juli 2019.

Fotografer Choi Byung Kwan (blazer hitam) dan Dubes Korea Kim Chang Beom (kedua dari kiri) bersama undangan sebelum pembukaan pameran.

Pameran dibuka Senin (24/6) malam dibuka oleh Dirjen Hubungan Asia Pasifik dan Afrika, Kementerian Luar Negeri, Desra Percaya, dihadiri Dirjen Kebudayaan, Kemendiknas Hilmar Farid, Mantan Menlu Hasan Wirayuda, Ketua Umum IKFA Adhi Wargono dan Dubes Korea untuk RI Kim Chang Beom serta dihadiri dubes Jepang, Spanyol, Filipina.

Suasana pembukaan Pameran Foto DMZ di Galeri Museum Nasional, Senin (24/6) malam,

Choi Byung Kwan memotret sudut sudut kawasan DMZ yang memanjang sebagai batas wilayah Korea Utara dan Korea Selatan. Pada tahun 1997, Ia menjadi fotografer sipil pertama yang boleh masuk ke batas garis depan dengan mengendarai mobil jeep untuk memotret sisa sisa perang saudara yang berkecamuk selama tiga tahun dari 1950-1953. Dalam tulisannya Choi menceritakan betapa ia merasa sedih dan asing selama berada di garis depan DMZ. Ia menemukan peninggalan perang yang amat banyak jumlahnya, berupa kereta yang telah berkarat, rel kereta yang telah ditumbuhi gulma, ada tank yang sudah hancur, peluru berkarat, helm yang berlubang karena terkena tembakan, jembatan yang terputus setengah, desa desa dan gedung sekolah yang hancur, dan lain-lain.

Dubes Korea untuk Indonesia Kim Chang Beom saat membuka acara pameran.

Kata fotografer melankolis ini, semua itu mengingatkan kepada rakyat kedua negara yang terpisah ini akan pentingnya soal perdamain. “Secara fisik kami memang dipisahkan oleh batas negara, tapi secara batin orang utara dan selatan adalah satu,” katanya.

Dirjen Kerjasama Asia Pasifik dan Afrika, Desta Percaya.

Demilitarized Zone (DMZ) adalah sebuah kawasan sepanjang 249 km dengan lebar 4 km, membentang dari barat ke timur membelah perbukitan serta laut, di antara kawasan yang dipagari dengan pagar berduri untuk menghindari terjadinya konflik militer dan sepanjang DMZ dipasang 1.125 titik rambu-rambu sebagai menara penginai. Kawasan itu sejak lama dijadikan zone tanpa manusia karena secara ketat diberlakukan larangan bagi masyarakat umum untuk memasuki wilayah ini, kecuali pasukan khusus yang telah mendapat izin masuk selama kurun waktu 50 tahun terakhir dari gencatan senjata.

Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid

Wilayah DMZ sebagai wilayah yang bebas dan damai, tapi bukan untuk manusia, melainkan untuk bekembangnya flora dan fauna. Hal itu pula yang membuat DMZ sebagai museum perang yang sangat besar. DMZ bisa disebut sebagai tanah kematian dan keputusasaan. Tetapi menurut Choi, ia merasa bahwa DMZ juga bisa disebut sebagai tanah penuh harapan dan masa depan. “Saya sempat hampir meninggal ketika memotret obyek di DMZ. Saya terus menerus berdoa untuk keselamatan diri sendiri maupun perdamaian di negeri saya,” katanya sambil menyebutkan dalam tulisannya bahwa DMZ menjadi daerah terunik di dunia.

Pemotongan pita tanda dibukanya pameran fotografi DMZ.

Ketika memberikan penjelasan tentang foto-foto hasilnya karyanya Choi saat menandatangani buku kenang kenangan yang diberikan kepada para undangan, sempat indikatornews menanyakan apa harapannya? “Saya ingin ada perdamain kedua negara, bahkan bisa terjadi reunifikasi agar famili yang sudah berpisah itu bisa setiap saat berkumpul.”
Di Panmunjom, daerah yang dijadikan sebagai tempat perjanjian gencatan senjata pada 27 Juli 1953 terdapat monumen berupa gedung yang di dalamnya terdapat garis demarkasih yang dijaga secara bergantian oleh militer kedua negara. Tempat ini boleh dikunjungi tapi dengan pernjanjian terlebih dahulu. Sedangkan masyarakat umum atau wisatawan lokal atau mancanegara yang melihat garis batasnya berada di “Imjingak” selain foto foto perang Korea dan kisah sepasang kekasih yang terpisah karena yang satu ke utara dan yang satunya lagi tetap di selatan. Kisah itu diabadikan dalam sebuah tugu, yang memahat syair lagu yang bisa terdengar bila dua orang berdiri di depan tugu…(AW)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »