16 Hari Melawan Maut, Togar: Yang Bilang Covid-19 Tidak Ada, Penjahat!

Jakarta, Indikatornews.com – Covid-19 tidak pernah pandang bulu. Siapa lengah, siap-siap saja virus ganas itu bakal mampir ke tubuh Anda. Tidak peduli Anda orang penting atau bukan. Dan, jika Covid-19 sudah merasuki tubuh, bersiap-siap pulalah untuk berperang melawannya. Banyak yang memenangkan peperangan itu, tapi tidak sedikit yang kalah dan menyerah.

“Jangan anggap sepele Covid-19. Virus ganas itu nyata, ada. Saya salah satu korbannya. Yang mengatakan Covid-19 tidak ada, itu penjahat kemanusiaan!” kata advokat senior Togar Situmorang, SH, MH, MAP, CMed, CLA kepada Kesit B Handoyo dari Indikatornews.com.

Advokat yang namanya tengah naik daun ini merasa perlu untuk mengingatkan masyarakat terkait dengan masih merebaknya Covid-19, bahkan adanya varian delta yang jauh lebih ganas penularannya. Ia ingin membagikan pengalamannya sebagai orang yang merasakan tidak enaknya dan menderitanya terpapar Covid-19.

“Enam belas hari saya berjuang melawan maut di ruang Intensive Care Unit (ICU) karena terpapar Covid-19,” ungkap Togar berkisah. Dia bersyukur bisa lolos dari maut.

Pria Batak yang memiliki kantor pengacara di Denpasar, Bali dan Jakarta itu memang kerap kali harus bolak-balik terbang menyelesaikan perkara yang dihadapi klien-kliennya. Sudah tak terhitung berapa kali dia melakukan test swab, baik antigen maupun PCR.

Soal bagaimana menjaga kesehatan, jangan ditanya. Tertib olahraga, makan makanan bergizi, serta tambahan suplemen dan multivitamin selalu dijaganya. Tapi, toh, tetap saja dirinya tak bebas dari ancaman Covid-19. Buktinya tetap bisa terpapar.

Sebelum menjalani perawatan lebih intensif di ruang ICU RS Rumah Sakit Bali Mandara pada 29 Juni 2021 lalu, Togar sudah lebih dulu melakukan  isolasi mandiri (isoman) di rumahnya. Isoman harus dia jalani setelah dirinya dinyatakan positif Covid-19 usai menjalani PCR enam hari sebelumnya, tepatnya, 23 Juni 2021. Sejak itulah perjuangan sekaligus peperangan pertama melawan virus Covid-19 dimulai.

Togar berpikir dengan isoman yang dijalani akan berjalan baik dan berharap kondisi akan kembali pulih dalam waktu yang tidak lama. Artinya, dia akan terbebas dari Covid-19 dan dapat beraktivitas lagi setelahnya. Namun, ternyata Covid-19 tak mau kompromi. Virus itu bukannya pergi, melainkan makin tak tahu diri.

“Puncaknya pada tanggal 29 Juni malam. Betul-betul saya sudah tak kuat lagi. Napas sesak, kepala muter-muter, dunia seperti kiamat dan badan sudah tak bisa gerak. Malam itu juga, sekitar pukul 12 tengah malam saya langsung dibawa ke Rumah Sakit Bali Mandara,” jelas Togar Situmorang.

Tiga jam setelah berada di RS dirinya mulai ditangani secara intens. “Peperangan kedua melawan Covid-19 dimulai,” begitu pikirnya.

Dan, benar. Saat jam memasuki pukul 05:00 dokter memutuskan untuk memindahkan Togar ke ruang ICU. “Itu karena kondisi saya makin memburuk,” ungkapnya.

Hari-hari berikutnya adalah perjuangan. Tekad yang kuat untuk terbebas dari Covid-19 membantunya dalam proses penyembuhan. Tak kalah penting juga tentunya adalah dukungan dan doa dari keluarga serta handai tolannya.

Setelah 16 hari melawan maut kondisi Togar mulai membaik. Ia pun diizinkan untuk pindah ke ruang perawatan biasa. “Ini semua mukjizat bagi saya. Saya bersyukur dan berterima kasih kepada dokter dan perawat yang luar biasa menolong saya. Hanya Tuhan yang bisa membalasnya,” tutur advokat kelahiran Jakarta 54 tahun silam.

Pengalaman terpapar Covid-19 membuat Togar berkepentingan untuk mengingatkan masyarakat bahwa jangan main-main dengan virus ganas ini. “Saat pandemi masih berlangsung, masyarakat wajib ikuti arahan pemerintah. Disiplin prokes,” ajak CEO & Founder Law Firm Togar Situmorang yang berkantor pusat di Jalan Tukad Citarum Nomor 5A Renon, Denpasar Selatan ini.

Togar juga mengingatkan kepada pihak-pihak yang masih tidak memercayai Covid-19 untuk tidak lagi membuat teori dan komentar-komentar yang menyesatkan. “Saya menentang orang yang mengatakan Covid-19 tidak ada, sehingga hanya membuat suasana menjadi gaduh. Sudah banyak korban berjatuhan. Tidak sedikit yang meninggal dunia akibat virus ini. Saya heran, di mana letak hati nurani orang-orang yang dengan seenaknya mengatakan Covid-19 itu tidak ada,” katanya.

“Jaga diri kita. Jalankan protokol kesehatan yang disarankan pemerintah. Jangan lupa untuk untuk selalu dekat dengan Tuhan,” Togar mengajak.

Tak lupa juga ia membagikan pengalamannya selama dalam perawatan di RS untuk mereka yang terpapar Covid-19, sebagaimana yang diterima dari dari dokter yang merawatnya.

Pertama, posisi tidur miring (kiri atau kanan). Kedua, menepuk dada perlahan dengan tangan dikepal, telapak tangan dan ujung-ujung jari masing-masing sebanyak 30 kali. Ketiga, menarik napas panjang secara  perlahan sebanyak 30 kali. Keempat, bernapas dengan cepat dan panjang juga sebanyak 30 kali. ***




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »