Pembelajaran di masa Pandemi Covid19 di Spanyol

Indikatornews.com

Gambar 1 Kondisi Ruang Kelas yang Kosong karena pembelajaran dilakukan secara daring

Sejak pandemi covid19 yang telah menyebar di berbagai belahan dunia. Semua sektor sempat terhenti karena adanya pandemi ini, seperti tempat hiburan yang ditutup, dan juga dari sektor pendidikan yang menutup sekolah ataupun universitas, dan memutuskan untuk tidak melakukan pembelajaran secara tatap muka. Sejak adanya pandemi ini, pendidikan kini beralih menjadi pembelajaran daring, yang dimana peserta didik tidak perlu datang ke sekolah, melainkan mereka saat ini sekolah dari rumah secara daring.

Di Indonesia, hal ini terjadi pada awal maret tahun 2020, pemerinth memutuskan untuk semua kegiatan belajar dilakukan secara daring. Hal ini dilakukan tentu untuk memutus mata rantai penyebaran covid19.

Tidak hanya Indonesia yang melakukan pembelajaran secara daring selama pandemi covid19 ini terjadi, salah satu negara yang juga menerapkan pembelajaran secara daring selama pandemi covid19 adalah negara Spanyol.

Berikut beberapa pertanyaan yang diajukan kepada Jessica, salah satu mahasiswi tingkat akhir yang berada di Spanyol.

Sejak kapan pemberlakuan pembelajaran secara daring berlangsung, semenjak adanya pandemi covid19?

“Ya memang semenjak adanya pandemi covid19, semua hal terasa berbeda. Tidak hanya dirasakan di negara Anda, melainkan di negara saya juga, dan mungkin semua negara. Seperti kegiatan pembelajaran yang harus dilakukan secara daring. Pemberlakuan pembelajaran secara daring ini mulai berlangsung pada bulan Maret 2020,” ujar Jessica.

Lalu, apakah di universitas Anda sampai saat ini masih melakukan pembelajaran secara daring atau sudah diperbolehkan melakukan pembelajaran secara tatap muka?

Gambar 2 Universitat de Valencia

“Saat ini di kampus saya yaitu Universitat de Valencia tepatnya di fakultas psikologi saat semester baru yaitu pada bulan september, pembelajaran secara tatap muka sudah boleh dilakukan dan tentunya dengan peraturan yang berbeda dan pastinya selalu mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah,” ujar Jessica.

  1. Pembelajaran dilakukan secara selang seling, seminggu secara tatap muka, seminggu selanjutnya secara daring, begitupun seterusnya
  2. Untuk kapasitas kelas tentunya juga dibatasi, hanya setengah peserta didik saja. Jika peserta didik sepenuhnya ada lima puluh, maka yang dibolehkan masuk untuk mengikuti pembelajaran secara tatap muka hanya setengahnya saja yaitu dua puluh lima peserta didik. Setengahnya lagi dapat mengikuti kelas secara tatap muka pada keesokan harinya.

“Hal ini tentu sangat berbeda sekali, saya hanya dapat mengikuti kelas secara tatap muka seminggu dua kali, yang sebelumnya saya masuk kelas setiap minggu empat hari,” ujar Jessica.

Adakah hal lain yang kamu rasakan berbeda ketika sudah dapat kembali masuk ke universitas?

“Tentu. Banyak sekali perbedaan yang dapat saya rasakan dan lihat. Sekarang, pintu, tangga, dan lain-lain memilki tanda untuk menunjukkan mana yang untuk masuk, keluar, naik keatas, turun kebawah. Di setiap sudut pun juga tersedia gel handsanitizer, kami juga harus menggunakan masker, dan duduk terpisah dengan teman sekelas karena adanya aturan untuk menjaga jarak,” ujar Jessica.

“Semuanya telah berubah. Terasa menyedihkan, karena ini merupakan tahun terakhir saya kuliah, tetapi kami harus melakukannya untuk melawan virus ini,” ujar Jessica.

Itulah beberapa hal yang dirasakan oleh salah satu mahasiswa yang ada di Spanyol. Semoga tahun depan semunya dapat kembali pulih dan menjadi lebih baik. Tetap semangat. (Afifatun Nida)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »